RESENSI NOVEL "SEPATU ORANG LAIN"
Judul Buku : Sepatu Orang Lain
Pengarang : Mia Saadah
Penerbit : KataDepan
Tahun Terbit : 2017
Tebal Halaman : 192 Halaman
SINOPOSIS
Karena hidup adalah sepenuhnya tentang mendengar, belajar, dan memahami. Bagaimana ternyata kalau hidup Cuma sebentar. Apakah kau akan memilih mengisinya dengan keluh atau memilih menghabiskannya dengan syukur yang penuh?
Apa itu definisi hidup bahagia? Bagaimana mengukurnya. Karena bukankah kadar bahagia tiap orang itu sangat berbeda? Lalu, mengapa kita masih saja sering kali mengukur kaki sendiri dalam sepat orang lain?
Maka, sesulit apa pun hari ini, sepekat apapaun esok hari, yakinlah Allah selalu bersamamu dan kau tidak pernah berjalan sendirian.
Sepatu orang lain adalah semangkuk bakso di hari yang hujan. Segelas cokelat panas pada suatu malam yang penuh lelah. Kau bisa memilah membaca kisahnyansatu-satu, semuanya akan menghangatkan hatimu.
Dari buku yang berjudul SEPATU ORANG LAIN ini berisi tentang pasangan suami istri yang sangat mengispirasi. Didalamnya ada beberapa kisah hidupnya dari suka duka menjadi istri yang harus mengalami LDM(LONG SITANCE MARRIAGE) yang sebenarnya tidak ada siapapun yang ingin mengalami hal tersebut dalam rumah tangganya. Dari beberapa kalimat yang sangat saya kagumi dan sangat mengispirasi untuk saya seperti ini beliau berkata “Jalani Hidup Dengan Tawakal Ada Suka Dan Duka Ada Bahagia Ada Sengsara Ada Malang Dan Ada Senang Semuanya Adalah Paket Yang Allah Suguhkan Secara Bersamaan Dalam Bingkisan Hidup Kita”. Dari buku tersebut juga ada kiat-kiat sukses menjalani LDM, pasti banyak banget orang yang ingin sukses menjalani LDM walau kebanyakan orang tidak mau mengalami LDM. Saya mendapatkan banyak pencerahan dari buku tersebut terutama tentang cara ikhlas dan bersyukur yang sudah kita ketahui tapi sering kita lupakan dalam pengimplentasian dalam kehidupan yang nyata. Penulis menceritakan bagaimana kesulitan menjadi Istri yang bersuami seorang diplomat, yang pastinya sering ditinggal keluar Negeri. Dan yang lebih menjadi persoalan dari sang penulis adalah ketika ia mendapatkan pertanyaan dari anaknya yang sering bertanya kritis tentang kenapa bapaknya harus pergi, kenapa mereka tidak tinggal bersama saja dan pertanyaan kritis lainnya. Didalam novel tersebut dari sang suami juga menceritakan bagaimana kisah hidup menjadi diplomat yang ditugaskan dinegara konflik, yang pastinya tidak mudah untuk menjalani hidup sehari-hari karena harus bersahabat dengan kericuhan yang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Penulis seolah-olah membawa kita kedalam ceritanya, hingga kita seperti berada ditempat yang penulis ceritakan tersebut. Meskipun penulis menceritakan kisah pribadinya namun dia tidak serta merta mengunggul-unggulkan kisah kehidupannya.
Untuk plot dan penggalan ceritanya kurang panjang dan sedikit kurang menarik jika masih dibaca sekilas.
Komentar
Posting Komentar